Liputan6.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menghadiri pembukaan rangkaian kegiatan Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Hotel Dusit Thani, Manila, Kamis (26/3/2026).
Forum bertajuk “All About Democracy” ini menjadi ajang konsolidasi kekuatan politik pro-demokrasi Asia di tengah tantangan kemunduran demokrasi global.
“Kehadiran kami di sini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan PDI Perjuangan untuk memastikan pelembagaan partai berjalan beriringan dengan penguatan kualitas demokrasi baik di Indonesia maupun berbagai kawasan lain, khususnya di Asia Tenggara,” kata Hasto.
Advertisement
Ia dijawalkan menjadi salah satu pembicara utama dalam sesi Policy Roundtable on Democratic Resilience pada Jumat (27/3). Hasto akan membedah topik “Political Party Institutionalization and Strategic Campaign”. Hasto akan berbagi panel dengan tokoh politik Filipina, Florencio Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party, Chee Soon Juan.
Ia mengatakan bahwa demokrasi Indonesia memiliki karakter yang khas sebagaimana dipahami oleh Presiden pertama RI Soekarno.
“Sebab demokrasi Indonesia menurut Bung Karno sangat khas, di mana demokrasi politik dan ekonomi menjadi daya penggerak bagi kemerdekaan setiap anak bangsa dan terwujudnya cita-cita keadilan social,” ungkap dia.
Selain mengikuti diskusi, delegasi PDIP akan memberikan suara dalam pertemuan Komite Eksekutif (ExCo) CALD ke-52 untuk memilih pimpinan baru CALD periode 2026-2028.
“Kami hadir mempertegas posisi PDI Perjuangan dalam mendukung pesan utama forum: bahwa demokrasi di Asia harus dipertahankan dan diperluas manfaatnya bagi seluruh warga negara,” kata Hasto.
Terkait Acara
Adapun, acara dibuka secara resmi oleh Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo “Erin” Tañada III, di mana dalam pidatonya menekankan momen bersejarah peringatan 80 tahun Partai Liberal Filipina dan 40 tahun Revolusi People Power (EDSA).
Ia menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan harus didasarkan pada partisipasi aktif, bukan sekadar tradisi.
“Demokrasi harus dimulai dari barisan kita sendiri,” katanya.
Erin juga menjelaskan bahwa di seluruh kawasan dan dunia saat ini, kita melihat kemunduran demokrasi, pengikisan kepercayaan terhadap institusi, dan tantangan yang berkembang terhadap kebebasan fundamental.
“Biarlah pertemuan di Manila ini menjadi jawaban kita. Biarlah ini menjadi ruang di mana kita menegaskan kembali komitmen kita tidak hanya pada idealisme demokrasi, tetapi pada tindakan demokrasi. Biarlah ini menjadi tempat di mana kita memperkuat kemitraan kita, menajamkan strategi kita, dan memperbarui tekad kita,” urai Tanada.
Usai pembukaan, agenda langsung dilanjutkan dengan sesi seminar penting mengenai peran perempuan bertajuk “Democratic Resilience at Risk: Violence Against Women in Politics in Asia”.
Sesi ini menghadirkan tokoh ikonik demokrasi Filipina, Leila de Lima, sebagai panelis utama. De Lima bersama panelis dari Taiwan dan Thailand membedah ancaman kekerasan serta disinformasi yang menyasar politisi perempuan sebagai tantangan nyata bagi ketahanan demokrasi di kawasan.
Advertisement