Kapal meledak di Selat Hormuz, tiga ABK WNI belum diketahui nasibnya

Sumber gambar, Faisal Ramadhan/NurPhoto via Getty Images

Waktu membaca: 5 menit

Sebanyak tiga warga Indonesia belum diketahui nasibnya setelah kapal tunda (tug boat) yang mereka awaki mengalami ledakan di Selat Hormuz, pada Jumat (06/03).

Kejadian bermula ketika satu perahu tunda bernama Musaffah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA) berlayar di Selat Hormuz antara perairan UEA dan Oman, pada Jumat (06/03) pukul 02.00 dini hari waktu setempat.

Menurut keterangan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar dan tenggelam.

Kapal itu berawak tujuh orang. Empat ABK (anak buah kapal) berasal dari Indonesia, tiga lainnya dari India dan Filipina.

Akibat ledakan tersebut, tiga ABK asal Indonesia belum diketahui nasibnya. Adapun satu ABK WNI mengalami luka-luka.

Hingga saat ini, pemerintah UEA dan Oman masih melakukan penyelidikan terkait penyebab insiden ini, menurut laporan Kementerian Luar Negeri Indonesia.

“Khusus kondisi awak empat awak WNI, satu WNI selamat sedang mendapat perawatan luka bakar di Rumah Sakit di Kota Khasab, Oman. Sedangkan tiga WNI lainnya masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat.

“Selain empat WNI tersebut, terdapat satu WNI yang berada di lokasi insiden namun berada di kapal yang berbeda dan dalam keadaan selamat,” sebut Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, melalui pernyataan tertulis, pada Sabtu (07/03).

KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat, lanjut Heni, segera berkoordinasi dengan otoritas UEA dan Oman serta pihak perusahaan Safeen Prestige untuk proses pencarian tiga awak WNI yang hilang.

Kedua KBRI kemudian menyampaikan perkembangan penanganan kepada pihak keluarga di Indonesia.

“Kementerian Luar Negeri juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini,” kata Heni.

Kepada seluruh WNI di Timur Tengah, termasuk ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal laut, Kementerian Luar Negeri mengimbau untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.

Dalam perkembangan sebelumnya, pemerintah Indonesia mulai mengevakuasi warganya yang tinggal di Iran seiring serangan AS dan Israel yang terus berlanjut terhadap negara itu.

Evakuasi ini akan dilakukan secara bertahap mulai Jumat (06/03).

Pada tahap pertama, sebanyak 32 WNI akan dievakuasi dari Iran pada Jumat (06/03), kata Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah.

Mereka akan dievakuasi melalui Azerbaijan, ungkap Heni.

Namun dia menjelaskan, jalur evakuasi ini tergantung kondisi riil di lapangan.

“Dan ini akan ditentukan oleh teman-teman di perwakilan kita di KBRI Teheran dan KBRI Azerbaijan,” tambahnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (06/03).

Heni menyatakan Kemlu Indonesia masih mengamati situasi untuk kemungkinan evakuasi tahap berikutnya.

Hal itu akan diputuskan dengan mempertimbangkan berbagai aspek “keamanan yang paling update dan aspek-aspek lainnya.”

“Termasuk assessment dari KBRI Teheran sebagai kantor perwakilan Kemlu yang memiliki kemampuan untuk memberikan assessment yang paling lengkap,” ungkapnya.

Dia meminta masyarakat dapat memahami situasi di lapangan yang disebutnya “sangat dinamis”.

Menurutnya, KBRI Teheran akan terus menjalin komunikasi dan melakukan penjangkauan kepada WNI yang masih berada di Teheran.

KBRI akan tetap beroperasi guna memberikan bantuan dan memenuhi kebutuhan WNI di sana.

Bagaimana nasib WNI di Lebanon?

Menyinggung nasib sekitar 939 WNI yang tinggal di Lebanon, Heni mengatakan pihaknya belum memiliki rencana untuk mengevakuasinya.

Alasannya, mayoritas WNI di Lebanom adalah anggota TNI yang bertugas di sana.

“Ada 939 WNI tapi sebagian besar merupakan personel TNI UNIFIL, dan sampai saat ini belum ada rencana untuk evakuasi,” ungkapnya.

Walaupun demikian, menurutnya, perwakilan Kemenlu Indonesia terus memantau kondisi di lapangan, memperbarui rencana kontingensi, serta menyiapkan opsi evakuasi jika diperlukan.

Berita ini akan terus diperbarui.