{"id":12910,"date":"2026-04-01T00:33:20","date_gmt":"2026-04-01T00:33:20","guid":{"rendered":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/?p=12910"},"modified":"2026-04-01T00:33:20","modified_gmt":"2026-04-01T00:33:20","slug":"bos-bank-mega-ungkap-target-kinerja-2026-jaga-likuiditas-yang-utama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/?p=12910","title":{"rendered":"Bos Bank Mega Ungkap Target Kinerja 2026: Jaga Likuiditas yang Utama"},"content":{"rendered":"<div>\n<article morss_own_score=\"6.471413160733549\" morss_score=\"11.706352919769694\">\n<figure class=\"mb-9\" morss_own_score=\"5.0\" morss_score=\"9.0\">\n<imgsrc=\"\"><figcaption>\n                            Foto: RUPS PT Bank MEGA. (CNBC Indonesia\/Zefanya Aprilia)                        <\/figcaption><\/figure>\n<div class=\"detail-text\" morss_own_score=\"5.657142857142857\" morss_score=\"67.65714285714286\">\n<p morss_own_score=\"7.0\" morss_score=\"9.0\"><strong>Jakarta, CNBC Indonesia<\/strong>\u00a0\u2014 PT Bank Mega Tbk. (MEGA) menetapkan target kinerja untuk tahun buku 2026 dengan optimisme yang terukur. Bank papan tengah itu menargetkan laba bersih sebesar Rp3,7 triliun.<\/p>\n<p>Pada fungsi intermediasi, Bank Mega membidik total kredit mencapai Rp74 triliun. Kemudian pada pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) di sebesar Rp111 triliun, serta total aset ditargetkan tumbuh menjadi Rp149 triliun.<\/p>\n<p>Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib membeberkan strategi yang akan dilakukan untuk mencapai Rencana Bisnis Bank tersebut, antara lain menjaga stabiltas likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah.<\/p>\n<p>Dalam hal ini, ia mengungkapkan bahwa rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit (LDR) ratio dijaga di kisaran 70%, di bawah ketentuan Bank Indonesia (BI). Meskipun keputusan itu akan dikenakan denda giro wajib minimum (GWM), Kostaman menyebut pertimbangan menjaga likuiditas lebih penting.<\/p>\n<p>&#8220;Bagi Bank Mega menjaga likuiditas itu, kita merasa jauh lebih penting. Terutama kalau terjadi krisis. Pengalaman kita kalau terjadi krisis itu uang yang ditarik customer itu sekitar 30% dari uang yang ada di bank. Oleh karena itu Bank Mega selalu menjaga policy likuiditas kita di itu,&#8221; tegas Kostaman saat ditemui di Auditorium Bank Mega, Selasa (31\/3\/2026).<\/p>\n<p>Menurutnya, keputusan berhati-hati menyalurkan kredit sembari mengalokasikan dana di instrumen-instrumen berharga bukan berarti tidak efisien. Kostaman merujuk pada kondisi margin bunga bersih (NIM) dan demand kredit industri perbankan RI yang kian menurun.<\/p>\n<p>Walau demikian, Bank Mega tetap fokus menjalankan fungsi intermediasinya dengan strategi peningkatan volume kredit wholesales melalui bilateral dan sindikasi serta akselerasi pertumbuhan Kartu Kredit.<\/p>\n<p>&#8220;Tentu tetap fokus utama bank adalah intermediasi kita memberikan kredit. Tetapi kalau belum tersalurkan ya kita tempatin di instrumen-instrumen yang menguntungkan. Ya secara umum permintaan kredit belum terlalu besar,&#8221; ujar Kostaman.<\/p>\n<p>Lantas, ia menyebut strategi Bank Mega lainnya adalah investasi aset treasury dengan optimal.<\/p>\n<p>Selanjutnya, bank itu juga akan memperkuat peran cabang sebagai penggerak utama pertumbuhan bisnis. Strategi terakhir yang diusung adalah, menciptakan pertumbuhan profit yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36 triliun. Perolehan laba Bank Mega dikontribusikan melalui kenaikan Fee Based Income sebesar 54% menjadi Rp2,79 Triliun dari posisi yang sama periode sebelumnya sebesar Rp1,82 Triliun.<\/p>\n<p>Pencapaian ini menempatkan Bank Mega masuk ke dalam jajaran 10 besar di industri dari sisi pendapatan laba.<\/p>\n<p>Bank Mega juga menunjukkan pertumbuhan yang positif dari sisi asset, dimana total aset pada akhir tahun tercatat mencapai Rp140,83 triliun, meningkat 4% dibandingkan tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Pada penyaluran kredit, Bank Mega tetap fokus pada segmen korporasi. Hingga akhir 2025, total kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 4% menjadi Rp67,23 triliun. Kualitas kredit juga tetap terjaga, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) yang membaik menjadi 1,65%.<\/p>\n<p>Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan pertumbuhan sebesar 14% menjadi Rp104,13 triliun. Komposisi DPK masih didominasi oleh Deposito, namun saldo CASA meningkat sebesar 2% dibandingkan periode sebelumnya menjadi Rp28,14 triliun.<\/p>\n<p>Fundamental keuangan Bank Mega juga tetap kuat. Hal ini tercermin dari rasio permodalan (CAR) yang berada di level 30,49% serta kebijakan Bank untuk LDR pada level kisaran 70%.<\/p>\n<p>Rasio keuangan lainnya juga menunjukkan kinerja yang solid, antara lain Return on Assets (ROA) sebesar 3,10%, Return on Equity (ROE) sebesar 15,54%, Net Interest Margin (NIM) sebesar 4,18%, serta rasio efisiensi BOPO sebesar 69,12%.<\/p>\n<p><strong>(mkh\/mkh)<\/strong><br \/>\n<a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/embed\/video\/713063?comscore=off\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[Gambas:Video CNBC]<br \/><\/a>\n<\/div>\n<p><a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/market\/20251215170443-17-694375\/laba-bank-mandiri-november-2025-naik-287-mtm-gara-gara-ini\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><\/p>\n<p><span><br \/>\n\t\t\tNext Article\t\t<\/span><\/p>\n<p><span><br \/>\n\t\t\t\tLaba Bank Mandiri November 2025 Naik 28,7% Mtm Gara-Gara Ini\t\t\t<\/span><\/p>\n<p><\/a><\/p>\n<\/article>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/awsimages.detik.net.id\/visual\/2026\/03\/31\/rups-pt-bank-mega-1774954287950_169.jpeg?w=1200&amp;q=90\"> Bank Mega targetkan laba bersih Rp3,7 triliun di 2026, dengan fokus pada pertumbuhan kredit dan likuiditas.<\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rop_custom_images_group":[],"rop_custom_messages_group":[],"rop_publish_now":"initial","rop_publish_now_accounts":[],"rop_publish_now_history":[],"rop_publish_now_status":"pending","neve_meta_sidebar":"","neve_meta_container":"","neve_meta_enable_content_width":"","neve_meta_content_width":0,"neve_meta_title_alignment":"","neve_meta_author_avatar":"","neve_post_elements_order":"","neve_meta_disable_header":"","neve_meta_disable_footer":"","neve_meta_disable_title":"","_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-12910","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12910\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/politics.news.eraenterprise.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}